
Berangkat dari atlet pencak silat, Iko Uwais kini jadi pemain film. Dia menjadi bintang pendatang baru dalam ajang film laga layar lebar nasional,
Merantau.
Ia merasa senang karena film tersebut juga bakal diputar di negara lain, tak hanya di Indonesia. "Bukan karena saya akan terkenal, tetapi karena pencak silat, olahraga tradisional
Indonesia akan dikenal orang. Itu yang membuat saya senang," ungkap Iko bungah. Iko dipilih membintangi Merantau oleh sutradara asal Inggris, Gareth Huw Evans, yang sebelumnya sudah tertarik oleh Pencak Silat ketika membuat karya dokumenter tentang seni bela diri tersebut.
"Tidak pernah terpikir sebelumnya untuk bermain dalam film silat. Padahal setiap hari saya bergelut dengan silat, silat dan silat," kata Iko di sela-sela diskusi film Merantau di FISIP, UI, Depok, beberapa hari lalu.
Dalam film tersebut, Iko akan berperan sebagai seorang lelaki asal Sumatera Barat,bernama Yudha yang sudah menjadi tradisi untuk merantau saat-saat menjelang dewasa. Film yang akan diputar di Cannes Film Festival 2009 itu juga akan dibintangi aktris Christine Hakim dan Donny Alamsyah, akan mengisahkan berbagai suka duka Yudha dalam perantauannya, hingga akhirnya ia harus bertemu dan mengadu jiwa dengan berbagai penjahat.
Untuk mengenal lebih jauh siapa sosok Iko, inilah.com berbincang dengannya. Berikut petikannya:
Ini debut film Anda. Susah tidak berakting? Di film ini saya memerankan tokoh yang minim dialog. Tetapi akan banyak beraksi. Memang ada sih dialog, dan ini memang rada susah. Karena latar belakang saya memang atlet pencak silat.Makanya, sebelum berakting di film ini, saya kursus akting dulu kepada Bang Eka Sitorus. Di sana saya banyak belajar tentang akting. Tetapi ya tetap sih kayaknya masih kagok gitu... Hehehe.Yang paling susah menghapal dialog sesuai dengan skenario. Karena ini pekerjaan baru saya. Tetapi, untuk bisa orang harus belajar, dan saya belajar keras untuk itu.
Memang latar belakang Anda apa, sih? Saya atlet pencak silat. Pernah tergabung di Pelatda DKI. Pernah mengikuti beberapa kejuaraan. saya sendiri lulusan SMA dan sempat bekerja sebagai driver (sopir) di sebuah perusahaan telekomunikasi. Makanya, kaget juga ketika ditawari untuk main film. Saya bersyukur kepada Allah SWT, atas kepercayaan yang diberikan. Mudah-mudahan saya bisa memberikan yang terbaik untuk film ini. Yang jelas, karena kesibukan di film ini sekarang saya sudah tidak jadi sopir lagi.
Wah hebat. Siap jadi artis, dong? Saya lebih suka jadi pemain film. Kalau jadi artis nggak kayaknya. Hehehe.... Tetapi, memang kalau ada rejekinya di sini (di dunia film), ya saya akan jalankan dengan sebaik-baiknya.Alhamdulillah, penghasilan saya bermain di film ini memang jauh lebih besar ketimbang menjadi deiver. Tetapi, semua ini saya anggap adalah rezeki dari Tuhan. Makanya, saya harus bisa memegang amanat itu dengan baik.
Berakting di film ini, sempat cedera ya katanya? Ya, sama saja saat saya latihan pencak silat, ya sering juga cidera. Tetapi, cederanya paling pegal-pegal atau memar. Tidak sampai cidera yang serius atau gawat. Yang pasti saya bersemangat sekali bermain di film ini. Bukan karena film ini akan membuat saya jadi terkenal, tetapi karena film ini mengangkat tentang olahraga pencak silat. Saya berharap, olahraga pencak silat bisa dikenal luas oleh masyarakat internasional.Ini membanggakan juga untuk Indonesia. Makanya, saya semangat untuk bermain sebaikmungkin di film ini.
Kalau sudah jadi artis, nanti pencak silatnya, bagaimana? Ya, tetap saja latihan. Sampai sekarang pun, meski sibuk syuting ya saya tetap latihan pencak silat. Memang tidak di perguruan tetapi latihan sendiri. Minimal dua jam per hari.
Senang pencak silat mulai, kapan? Sejak saya masih kecil. Sebab, kakek, paman, dan ayah saya juga menggeluti olahraga pencak silat. Jadi sejak kecil, saya sudah sering melihat mereka latihan. Nah, sejak SD, kelas 5 atau kelas 6 gitu, saya sudah ikut latihan pencak silat.
Sumber: inilah.com